Tingkat Imunisasi Juga Melorot di Filipina, Indonesia Menyusul

Kekhawatiran soal dampak vaksin demam berdarah membuat tingkat imunisasi untuk beberapa penyakit yang bisa dicegah turun tajam di negara Filipina. Menteri Kesehatan Filipina, Enrique Domingo, menyatakan bahwa banyak orang tua yang menolak anak mereka diberikan vaksin polio, tetanus dan cacar air.

Karna Vaksin Dengvaxia?

“Program imunisasi kami mengalami kemunduruan…orang-orang sekarang ini takut dengan vaksin,” ungkap Domingo. Ia menjelaskan bahwa tingkat vaksinasi untuk sejumlah penyakit yang dapat dicegah turun ke tingkat 60% dalam beberapa tahun belakangan ini. padahal pemerintah memberikan target tingkat imunisasi 85%. Ia pun khawatir situasi ini bisa memicu wabah penyakit di Filipina dengan jumlah penduduk 100 juta banya di antaranya yang tergolong miskin.

Ketakutan pada vaksin disebabkan oleh Dengvaxia, sebuah obat yang mana dikembangkan oleh Sanofi, perusahaan Prancis. Dalam jangka waktu 2016 sampai dengan tahun 2017 sudah lebih dari 800.000 anak menerima vaksin Dengvaxia, dan 14 di antaranya meninggal dunia.

Imunisasi  Dengvaxia pasalnya dihentikan tahun yang lalu saat pemerintah melakukan investigasi Agen Togel Online untuk mengetahui sebab dari anak-anak yang meninggal itu. pada hari Sabtu (3/2), dokter dan juga pakar kesehatan yang ada di Filipina mengatakan kajian klinis telah dilakukan oleh mereka. dan hasilnya menunjukkan ‘tidak ada kaitannya antara kematian anak-anak ini dengan vaksin Dengvaxia.”

Sanofi juga mengatakan bahwa Dengvaxia diuji coba secara klinis selama kurun waktu lebih dari 10 tahun dan juga sudah digunakan sebanyak lebih dari 1 juta dosis. “Tidak ada kematian yang disebabkan oleh vaksin Dengvaxia ini,” demikianlah penjelasan dari Sanofi.

Meskipun demikian, Sanofi juga memperingatkan bahwa vaksin dapat membuat demam berdarah lebih parah untuk orang-orang yang belum terkena penyakit ini sebelumnya. Demam berdarah pasalnya menyerang lebih dari 400.000 juta orang per tahunnya di seluruh dunia. Dan Dengvaxia adalah vaksin yang pertama untuk penyakit ini.

Penyakit yang menular melalui nyamuk ini sudah banyak dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak-anak di beberapa negara di Asia dan Amerika Latin. Menurut data yang telah dikumpulkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, banyak anak yang meninggal karena penyakit ini.

Bagaimana Vaksinasi DBD di Indonesia?

Mengikut jejak Filipina yang mana mengangguhkan program vaksinasi BDB Dengvaxia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pasalnya langsung menginstruksikan dokter-dokter anak dan juga masyarakat untuk tak melakukan pemberian vaksin baru itu pada anak-anak.

Sementara itu, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) sedang melakukan re-evaluasi atau pengkajian kembali keamanan dan juga manfaat produk vaksin yang mana sudah beredar di Indonesia tahun lalu itu. hal ini menyusul adanya hasil penelitian yang paling baru dari Sanofi Pasteur, perusahaan yang berasal dari Perancis di mana vaksin Dengvaxia diproduksi, yang menyebutkan bahwa vaksin itu malahan berbahaya bagi mereka yang belum pernah terjangkit penyakit demam darah dengue.

Aman Pulungan, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, menyebutkan langkah yang ditempuh asosiasi dokter anak ini disebut sebagai langkah yang antisipatif. “Antisipatif, persoalannya adalah di negara tetangga saja seperti itu dan juga si companynya sendiri membuat rilis itu. saat ada reaksi seperti ini dan juga reaksi di luar negeri itu memang anggota banyak yang menanyakan. Sembari kita semua belum tahu apa yang benar-benar kejadiannya, sementara ini kita lakukan dulu penundaan pemakaiannya,” ungkap Aman dilansir dari BBC Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*